Penerapan Ekonomi Hijau BCA, Mulai Salurkan Portofolio ke Sektor EBT dan Kantor ‘Green Building’

Dunia kini tengah menguatkan komitmennya untuk mendorong penerapan ekonomi hijau sebagai salah satu strategi transformasi dalam menerapkan ekonomi yang berkelanjutan. Seiring berjalannya waktu, ekonomi hijau akan semakin populer. Sebaliknya, pembangunan ekonomi yang mengadopsi praktik konvensional atau yang tidak berkelanjutan, bakal semakin ditinggalkan. Pasalnya, praktik tersebut kurang berpihak terhadap faktor sosial hingga lingkungan.

Pengamat Ekonomi, Cyrilus Harinowo mengatakan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang memperhatikan 3 aspek. Yakni rendah karbon (low carbon economy), Efisiensi Sumber Daya (Resource Efficiency), dan Social Inclusion alias mendorong penyertaan sosial. Sebuah penerapan ekonomi hijau akan menghasilkan peningkatan kesejahteraan manusia. Cyrilus mengungkapkan, ekonomi hijau sebenarnya telah populer sejak sebelum tahun 2000. Seiring berjalannya waktu, hal tersebut kian populer dan akhirnya dunia semakin memperkuat komitmennya pada Perjanjian Paris atau Paris Agreement pada tahun 2015.

Kesepakatan internasional itu menekankan komitmen mitigasi, adaptasi dan keuangan terkait perubahan iklim. Juga, persetujuan tersebut mengawal negara negara untuk mengurangi emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lain untuk membatasi pemanasan global. Bahkan saat ini, sejumlah negara di Eropa telah mempercepat penggunaan kendaraan listrik untuk kegiatan sehari hari. Karena seperti diketahui, kendaraan mesin yang masih menggunakan bahan bakar fosil, memiliki buangan gas karbon yang cukup besar.

“Ini lah aspek aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan ekonomi hijau ke depan. Paris Agreement di 2015 adalah bukti bahwa dunia menggiring, dan menargetkan untuk mencapai net carbon emissions di 2050 di seluruh dunia,” ucap Cyrilus saat Media Tour Wisma BCA Foresta, BSD belum lama ini. Untuk di Indonesia sendiri, lanjut Cyrilus, penggunaan kendaraan listrik masih belum populer seperti di Benua Biru. Namun kini Indonesia telah berkomitmen untuk membentuk ekosistem kendaraan listrik mulai dari hulu hingga hilir.

Dari sisi pembangkit listrik, Indonesia juga sudah mulai memaksimalkan sumber sumber energi terbarukan yang ada. Mulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Air, Panas Bumi, Angin, hingga tenaga Surya. “Potensi energi terbarukan dan sumber daya mineral seperti nikel sangat besar sekali. Di tahun yang akan datang Indonesia akan menuju zaman yang keemasan dalam perekonomian. Kita akan jauh lebih kaya,” papar Cyrilus. Cyrilus mengatakan, sebetulnya perbankan memiliki kaitan yang sangat penting dalam penerapan ekonomi hijau.

Pertama, perbankan itu memiliki peran pembiayaan atau pemberi kredit kepada para industri. Dalam pemberian kredit ini, portofolio yang diarahkan perbankan di era sekarang ini mestinya harus semakin diarahkan ke ekonomi hijau. Seperti memberikan pembiayaan pembangunan Pembangkit Listrik yang sumbernya dari energi terbarukan. Atau mendukung pembangunan kawasan industri hijau, yaitu kawasan industri yang elektrifikasinya menggunakan eneri terbarukan.

“Dari sini bisa dilihat pergeseran perbankan juga sudah mulai membiayai proyek proyek semacam itu. Itulah yang dimaksud dari sisi portofolio perkreditannya,” papar Cyrilius yang juga merupakan Komisaris Bank Central Asia (BCA). Kemudian kaitannya yang kedua adalah, bagaimana Perbankan dapat berkontribusi dari dalam lingkungan perusahaan itu sendiri. Seperti membangun kantor yang berkonsep Green Building, hingga menerapkan budaya budaya ramah lingkungan kepada para pekerjanya.

Budaya tersebut seperti meminimalisir penggunaan kertas, atau diimbau untuk tidak menggunakan botol air minum sekali pakai. Salah satu perbankan nasional yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar yakni PT Bank Central Asia Tbk (BCA), terus membangun dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan konsisten dihadirkan melalui berbagai program dan inisiatif. EVP Secretariat & Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, di tahun ini, BCA berkomitmen untuk meningkatkan inisiatif berkaitan dengan pilar pilar Environtmental, Social and Governance (ESG).

Hal tersebut upaya dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG’s) dan usaha berbasis ekonomi hijau. Soal komitmen berkelanjutan, BCA sebagai salah satu pelaku industri perbankan nasional, memiliki pilar pilar berkelanjutan atau biasa disebut responseable banking. Terkait pilar budaya berkelanjutan, BCA membangun budaya baik di internal yang kemudian direfleksikan dengan inisiatif eksternal.

Sehingga dapat membentuk budaya atau sustainability culture. Mulai dari operasional bank hingga strategi bisnis. Terkait portofolio hijau BCA, Hera mengungkapkan, tercatat telah mencapai Rp161,6 triliun hingga Maret 2022. Angka tersebut mengambil porsi sekitar 25 persen dari total portofolio BCA. Alokasi pembiayaan tersebut ditujukan mulai dari sektor transportasi Eco Friendly, industri Eco Friendly Product, energi terbarukan, dan ke sektor pengelolaan limbah dan air.

Tak hanya portofolio kredit, BCA juga menginisiasi dalam melakukan pengolahan limbah industri perbankan. Seperti mesin Electronic data Capture (EDC) dan kartu ATM yang sudah tidak terpakai. Contohnya, untuk limbah kartu ATM yang sudah tidak dapat digunakan, BCA mengolah limbah tersebut dan dijadikan sebagai paving blok di beberapa kantor BCA. Terkait aktivitas di kantor, BCA juga meminimalisir penggunaan penggunaan kertas.

“Project ini dilakukan sejak tahun lalu, dan kita sudah berkontribusi untuk program keberlanjutan,” papar Hera. Menilik Kantor BCA yang Berkonsep “Green Building”, Hemat Energi hingga Ramah Lingkungan Wisma BCA Foresta yang berlokasi di Tangerang, menjadi salah satu wujud pembangunan berkelanjutan oleh BCA.

Bangunan yang menyandang kategori sebagai Green Building ini menerapkan teknologi berbasis ramah lingkungan. Wisma BCA Foresta merupakan gedung yang beroperasi sejak Oktober 2020 dengan peruntukan sebagai kantor pusat BCA dengan total luas bangunan lebih dari 45.000 m2. Pada penghujung tahun 2021, Wisma BCA Foresta meraih sertifikasi Greenship Platinum dari Green Building Council Indonesia (GBCI).

Berbagai teknologi yang diterapkan di Wisma BCA Foresta antara lain Building Automation System, penggunaan kaca double glass (low E), air minum reverse osmosis, pemanfaatan air recycle dan rain water, dan yang lainnya. Penerapan Green Building Wisma BCA Foresta memberikan manfaat secara ekologis. Antara lain seperti mengurangi emisi karbon dengan penggunaan komponen yang hemat energi, memaksimalkan pencahayaan alami yang masuk ke area gedung, penjagaan kualitas udara dan juga memberikan manfaat ekonomis karena dapat menurunkan biaya operasional dan biaya pemeliharaan.

Terbaru, fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) juga melengkapi fasilitas di BCA Foresta. SPKLU yang dihadirkan ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat yang berada di sekitar Wisma BCA Foresta karena beroperasi selama 24 jam dalam 7 hari. Terdapat dua jenis mesin charging dengan kapasitas 7 kilowatt yang dapat melakukan pengisian selama 6 jam dan 22 kW dengan pengisian selama 2 jam.

Untuk melakukan pengisian daya, pengendara dapat melakukan dengan self service dan pastikan telah terhubung dengan aplikasi EV Cuzz yang dapat diunduh di smartphone konsumen. “BCA berkomitmen untuk senantiasa menghadirkan nilai tambah bagi seluruh nasabah dan masyarakat. Kami meyakini pembangunan ini akan memberikan dampak yang positif terutama bagi lingkungan hidup,” pungkas Hera F Haryn.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.